Jumat, 20 Mei 2016

Resensi; Pengakuan Pariyem





 


 Judul                           : Pengakuan Pariyem (Dunia Batin Wanita Jawa)
Bentuk                         : Novel Prosa Lirik
Penulis                         : Linus Suryadi Ag.
Penerbit                       : Pustaka Pelajar
Tahun terbit                 : Cetakan keenam 2002
Jumlah Halaman          : 325 Halaman
 


Potret Kehidupan di Lingkungan Priyayi Jawa
            Pariyem adalah seorang babu yang mengabdi di nDalem Suryamentaraman Ngayogyakarta, dengan nDoro Kanjeng Cokro Sentono sebagai majikannya. Pariyem sendiri berasal dari Wonosari Gunung Kidul, sebuah daerah yang berada di sebelah selatan Kota Yogyakarta. Pariyem digambarkan sebagai wanita Jawa yang lugu, nrimo ing pandum (menerima apa adanya), namun juga udik. Hal tersebut tidaklah aneh, selain karena ia tidak tamat SD, ia merupakan seorang penganut agama Katolik Kejawen yang sarat dengan budaya Jawa.

            Keluguan Pariyem digambarkan penulis melalui beberapa pengakuannya yang seolah mengajak Tuhan untuk mengampuni dosanya dalam perzinaan. Berikut pengakuan Pariyem:
“O, Allah, Gusti nyuwun ngapura. Kami telah telanjang bulat!. Bibir saya diciumnya, ciuman pertama dari seorang pria. Penthil saya diremasnya, remasan pertama dari seorang pria. Dan kuping bawah saya dikulumnya, kuluman pertama dari seorang pria. O, Allah, gelinya luar biasa! Bulu kuduk saya merinding lho”. (Hal.82)

            Selain keluguan, pariyem melalui pengakuannya juga sarat dengan sifatnya yang nrimo ing pandum. Kehidupannya sebagai babu tidak membuatnya murka, bahkan ketika ia harus menjadi selir tanpa pernikahan yang sah. Linus memang menggambarkan Pariyem sebagai gadis desa yang mudah memikat. Tidak heran jika anak sang majikan yang bernama Raden Bagus Ario Atmojo jatuh hati kepadanya hingga keduanya menjalin hubungan asmara diam-diam.
“Kalau memang sudah nasib saya sebagai babu, apa ta repotnya? Gusti Allah Maha Adil kok. Saya nrimo ing pandum. Kalau Indonesia krisis babu, bukan hanya krisis BBM saja, O, Allah, apa nanti jadinya?”. (Hal.29)

“Pariyem saya. Maria Magdalena Pariyem lengkapnya, “Iyem” panggilan sehari-hainya. Dari Wonosari Gunung Kidul. Sebagai babu  nDoro Kanjeng Cokro Sentono di nDalem Suryamentaraman Ngayogyakarta, kini merawani putra sulungnya. Raden Bagus Ario Atmojo namanya. Saya ajar bermain asmara. O, beginilah pokal anak muda. Baru kini jagad direguknya”. (Hal. 40)

            Melalui novel prosa lirik ini, Linus berhasil menggambarkan seperti apa kehidupan yang terjadi di lingkungan priyayi Jawa. Bagaimana polah seorang babu yang harus mengabdi, dan bagaimana keputusan seorang priyayi bak Tuhan yang harus dilaksanakan. Memang novel ini tidak menceritakan kisah asmara yang tragis antara wong cilik dan priyayi. Kehamilan Pariyem sebagai buah percintaannya dengan Den Bagus, diterima oleh kedua belah pihak keluarga. Anaknya pun tetap dianggap sebagai cucu majikannya, hanya saja Pariyem tidak dinikahkan.

            Tidak ada perseteruan yang menegangkan dalam novel ini, sebab Pariyem menerima dengan lapang dada segala apa yang dialaminya. Untuk ukuran novel menurut saya tidak lengkap jika tidak disertai konflik yang menjadi klimaksnya. Meskipun demikian, Pengakuan Pariyem (Dunia Batin Wanita Jawa) ini tetap enak dan menarik untuk dibaca. Kata-kata yang diungkapkan Pariyem sangat humoris berkat keluguannya.

            Akan tetapi, buku ini juga dapat menyebabkan kecelakaan dalam berfikir terutama bagi orang yang belum mengenal budaya Jawa yang sesungguhnya. Nrimo ing pandum yang digambarkan dalam novel ini terlalu berlebihan. Orang Jawa memang memiliki sifat nrimo ing pandum sebagai ciri khasnya, yaitu representasi rasa bersyukur atas apa pun yang telah diberikan oleh Tuhan. Hal ini bukan termasuk penerimaan atas eksploitasi tubuh.

            Dilihat dari bahasa yang digunakan serta alur cerita yang bisa dikatakan saru, novel ini hanya cocok dibaca orang-orang dewasa. Semoga resensi ini bermanfaat bagi pembaca yang budiman dan menambah ketertarikan untuk membaca.

Kamis, 19 Mei 2016

Hukuman Kebiri bagi Pelaku Kekerasan Seksual terhadap Anak

Dewasa ini, kekerasan seksual terhadap anak banyak sekali terjadi di Indonesia. Seperti yang terjadi pada bulan April silam, seorang anak yang berinisial YY (14), diperkosa dan dibunuh oleh 14 remaja di Kabupaten Bengkulu. Kemudian di Bogor, seorang bocah berumur 2,5 tahun juga diperkosa dan dibunuh oleh tetangganya sendiri. Dan baru-baru ini yang masih hangat adalah berita tentang anak kelas 1 SMP di Surabaya yang diperkosa 8 orang anak. Ironisnya, diantara pelaku tersebut ada yang masih berumur 9 tahun. Dan tentunya masih banyak lagi kasus-kasus yang lain.

Kemunculan peristiwa-peristiwa tersebut, sontak membuat masyarakat Indonesia kaget dan geram. Betapa tidak, generasi bangsa yang diharapkan mampu meneruskan keberlangsungan negara ini, harus menutup umurnya di usia yang masih belia. Juga para pelaku yang mayoritas anak di bawah umur tersebut, harus berhadapan dengan proses hukum.

Memang tidak mudah menghadapi kasus seperti ini. Di satu sisi, masyarakat menginginkan hukuman yang seberat-beratnya terhadap pelaku, bahkan ada yang menginginkan para pelaku untuk dihukum kebiri. Akan tetapi hukuman tersebut  saat ini tengah menghadapi pro dan kontra. Di sisi yang lain, persoalan usia para pelaku yang masih dibawah umur, menyebabkan kesulitan dalam mengambil keputusan atas hukuman yang akan diberikan, apalagi hukuman kebiri.

Dilansir dari kompas.com (4/5), Ketua Majlis Permusyawaratan Rakyat, Zulkifli Hasan berpendapat bahwa hukuman kebiri belum tentu membuat pelaku kejahatan seksual menjadi jera. Pasalnya, belum ada bukti akurat yang mengatakan bahwa hukuman kebiri dapat membuat pelaku kejahatan seksual menjadi jera.

Wacana untuk menjatuhkan hukuman kebiri terhadap pelaku kekerasan seksual sebenarnya sudah lama diperbicangkan. Pada bulan Oktober 2015, dalam situs rappler.com telah dimuat sebuah artikel tentang pro dan kontra hukuman kebiri. Banyak tokoh masyarakat yang turut ambil suara mengenai wacana pengebirian tersebut.

Dalam rappler.com, dr. Boyke menyatakan ketidaksetujuannya terhadap hukuman kebiri dengan alasan bahwa pelaku kejahatan seksual masih berpotensi melakukan aksi kejahatannya selama kondisi mentalnya tidak diobati. Lain lagi dengan Masruchah, anggota Komnas Perempuan. Meskipun sama-sama kontra, Masruchah lebih beralasan kepada pelanggaran Hak Asasi Manusia.

Berbeda dengan Arist Merdeka Sirait, Ketua Komnas Perlindungan Anak. Ia yakin bahwa hukuman kebiri sebagai pemberatan hukuman bagi pelaku kejahatan seksual pada anak dapat mengurangi kasus kekerasan pada anak. Akan tetapi, baru-baru ini melalui kompas.com (7/5) ia meminta kepada pemerintah dan seluruh elemen masyarakat untuk lebih fokus untuk mencari akar masalah terjadinya kekerasan seksual terhadap anak. Arist beranggapan bahwa pencarian akar permasalahan lebih penting dari pada memperdebatkan revisi UU Perlindungan Anak, ataupun memperdebatkan mengenai hukuman-hukuman lainnya.

Adanya perdebatan mengenai hukuman apa yang pantas dijatuhkan kepada pelaku kekerasan seksual kepada anak bukanlah hal yang salah. Justru hal tersebut menunjukkan bahwa masih banyak orang yang peduli dengan masyarakat kita. Menginginkan kesejahteraan bersama tanpa adanya kejahatan, apalagi kejahatan terhadap anak penerus bangsa. Akan tetapi, terlepas dari hukuman apakah yang tepat, pencarian akar persoalan juga perlu dilakukan. Karena banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi seseorang untuk melakukan kejahatan seksual.

Seperti kasus YY di Bengkulu, salah satu faktor yang mendorong para pelaku untuk melakukan aksi kejinya adalah akibat mengonsumsi minuman keras yang berupa tuak. Kemudian kasus pemerkosaan anak kelas 1 SMP oleh 8 orang anak yang salah satunya masih berumur 9 tahun di Surabaya. Mereka melakukan aksinya setelah meminum pil koplo bersama-sama dan seringnya menonton konten porno melalui warung internet (warnet).

Ada apa sebenarnya dibalik semua ini? Dimana peran keluarga, masyarakat, dan pemerintah? Peristiwa yang bermunculan belakangan ini sangat miris bukan? Hal demikian tentunya bukan tanpa sebab. Kehidupan di muka bumi merupakan sebuah hukum kausalitas. Rendahnya kontrol keluarga terhadap anak, dapat mengakibatkan anak bergaul di luar batas. Lingkungan yang tidak mendukung anak untuk belajar juga dapat memicu perkara serupa. Lalu, bagaimana dengan pemerintah? Melalui program pendidikannya, pemerintah seharusnya mampu mengambil andil untuk mencegah anak-anak bangsa berbuat hal-hal yang melanggar seperti yang banyak terjadi sekarang ini.

Senin, 16 Mei 2016

Ngopi dan Antri Mandi

Ngopi merupakan salah satu rutinitas yang paling sering dilakukan oleh mayoritas mahasiswa. Ngopi di sini  bukan ngopi-mengcopy lhoh ya, tapi ngobrol nongkrong di warung kopi. Meskipun, banyak juga sih mahasiswa yang ngopi alias jiplak tugas dari internet. Namun, hal itu tidak akan saya bahas disini. Mungkin di lain waktu saja. Hehe.

Bagi mahasiswa yang memang hobi ngopi, waktu bukanlah suatu halangan bagi mereka untuk tetap duduk berhadapan dengan bercangkir-cangkir minuman yang khas dengan rasanya yang pahit itu meskipun waktu sudah larut malam atau bahkan berganti hari. Uniknya, yang hobi ngopi itu tidak hanya mahasiswa lhoh, namun juga mahasiswi. Yah, tentunya aktifitas ini lebih sering dilakukan oleh mahasiswa atau mahasiswi yang tinggal di kost. Gak kebayang kan kalo tinggal di rumah dan setiap hari ngopi sampai pagi? Wah, pasti sering dapet omelan tuh dari orang tuanya? Hahaha..

Lalu, apa sih yang dibahas di warung kopi sampai berjam-jam seperti itu? Banyak. Iya, jawabannya banyak sekali. Ada yang berdiskusi, rapat organisasi, meet up dengan teman-teman, atau memang karena hobi nongkrong. Banyak yang berpendapat kalau diskusi yang dilakukan di warung kopi itu lebih asyik dari pada diskusi yang dilakukan di tempat-tempat lainnya, apalagi di kampus. Suasanan di warung kopi yang ramai dan khas memiliki sensasi tersendiri. Makanya, banyak sekali mahasiswa yang sampai lupa waktu gara-gara nongkrong, bahkan hingga tidur di warung kopi lhoh..

Tidak menjadi persoalan, jika aktifitas ngopi ini dilakukan pada hari libur. Namun, apa jadinya kalau dilakukan pada hari-hari biasa? Hmmm, akhirnya kuliah yang menjadi taruhannya bukan? Seringnya ngopi hingga larut malam, tidak jarang membuat mahasiswa bangun kesiangan dan pada akhirnya terlambat masuk kuliah. Apalagi yang kuliahnya jam 07.00 tepat, belum lagi ditambah dengan antri mandi. Waahh celaka. Udah bangunnya kesiangan, mandinya antri lagi. Duh kasihan deh kuliahnya (bukan orangnya).

Antri mandi memang menjadi salah satu problem terbesar dan tersering yang terjadi di lingkungan anak kost. Banyaknya populasi dalam suatu kost tidak sebanding dengan banyaknya kamar mandi yang disediakan menyebabkan para penghuninya dimabuk kepayang gara-gara dikejar waktu. Tragedi menyeramkan versi anak kost ini memang tidak berlaku bagi anak kost yang memiliki kamar mandi dalam, namun, tidak menjamin mereka tidak terlambat ke kampus jika pada malam harinya ngopi.

Meskipun sudah sering telat ngampus gara-gara ngopi dan tragedi antri mandi, tidak lantas membuat mahasiswa yang hobi ngopi tersebut kapok. Masih saja diulangi pada hari-hari berikutnya. Betul nggak? Memang yah, yang namanya hobi itu susah sekali di hilangkan. Akan tetapi, jangan salah, ngopi dan antri mandi punya sisi positifnya lhoh.

Mahasiswa yang suka ngopi, selain dapat mempererat solidaritas dan pertemanan diantara mereka, juga dapat menambah wawasan. Karena sering kali mereka menyelipkan bahan-bahan untuk dapat didiskusikan bersama. Lalu bagaimana dengan antri mandi? Sisi positif dari antri mandi adalah irit air. Betul tidak? Karena waktu yang terbatas, akhirnya tidak ada waktu untuk berlama-lamaan di kamar mandi. Bagaimana mau berlama-lamaan di kamar mandi, lha wong baru melepas pakaian saja sudah di gedor sama antrian selanjutnya. Giliran yang mandi terakhir, ehh sudah telat bingitz kuliahnya. Yah, boro-boro mandi, paling langsung pada cap-cus ke kampus. So, antri mandi bener-bener bikin irit air kan? Hahaha
Post: Eka Rafika

(Tulisan ini pernah dimuat di anakkost.com)
Eka Rafika Santi Komunikasi Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
           

Remaja Islam Masa Kini, Progres atau Regres???

Islam, sebagai agama rahmatan lil’alamin, telah mengajarkan manusia untuk berperilaku yang baik dan benar sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadist. Pertama kali Islam lahir dan dibawa oleh Nabi Muhammad ratusan tahun yang lalu di Jazirah Arab, tak lain adalah bertujuan untuk membimbing manusia supaya berada di jalan yang benar. karena pada waktu itu, kemaksiatan dan kejahatan sudah menjadi hal yang biasa di lakukan di negeri padang pasir tersebut.

Semakin ke sini, islam telah banyak mengalami perkembangan. Banyak ilmuan muslim yang lahir dan terkenal di dunia. Seperti Al- Ghazali, Ibnu Sina, Al-Razi, atau yang baru-baru ini muncul seperti Abdussalam, Arkani Hamed, BJ. Habibie dan masih banyak lainnya.

Namun, ada ironi yang muncul bersamaan dengan perkembangan ilmu pengetahuan di kalangan muslim, terutama di Indonesia. Yaitu, mulai masuknya kebudayan barat yang notabenenya jauh dari ajaran agama islam. Gaya hidup bebas sudah menjalar di lingkungan remaja islam Indonesia. Berpakaian terbuka, berpesta, seks bebas, bahkan pemerkosaan dan pembunuhan yang dulu sering dilakukan oleh kaum Jahiliyyah juga sudah banyak dilakukan di Indonesia.

“Para remaja islam tidak malu lagi mempertontonkan kemesraan nya dengan lawan jenis di depan orang banyak atau di tempat umum. Dapat kita saksikan cowok cewek berboncengan, insyaallah kecepatan motor itu 20 km/jam tapi subhaallah ceweknya meluk cowok itu seolah-olah motor itu dalam kecepatan 120 km/jam, na’udzubillah himindzalik”. Tutur Hanung Pertapa Sari, ustadzah PPMI Assalaam Surakarta.

Fenomena-fenomena seperti itu memang sudah banyak kita jumpai dewasa ini. Hanung menambahkan, bahwa banyak di antara remaja muslim yang sudah tidak lagi melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai seorang muslim. Islam hanya sekedar dijadikan sebagai identitas belaka.

Namun, lain halnya dengan Fitriyani, mahasiswa KPI 2013. Ia memandang bahwa remaja islam sudah banyak mengalami perkembangan terutama dari segi berpakaian.

“Pertama kali islam masuk di Indonesia dan mengenalkan cara berpakaian yang tertutup, orang-orang hanya sekedar memakai kain yang di slempangkan di kepala. Akan tetapi, sekarang sudah banyak remaja muslim yang memakai jilbab syar’i”. Jelasnya.

Lalu, bagaimana sebenarnya perkembangan remaja islam masa kini? Progres atau regres? Tentunya kita tidak dapat melihat segala sesuatu dari satu sisi saja, melainkan harus dari berbagai sisi. Islam tidak hanya sekedar  cara berpakain, juga bukan hanya mengajarkan caranya bergaul dengan sesama. Islam lebih luas daripada lautan.

Semoga tulisan ini dapat memberi suntikan moral kepada remaja islam masa kini untuk dapat menginstropeksi diri. (Tugas: Laporan Utama dalam Majalah Psidak)
               

Sabtu, 14 Mei 2016

Fungsi Lain Rice Cooker Ala Anak Kost




Sesuai dengan namanya, Rice cooker diciptakan untuk menanak nasi sekaligus menghangatkannya. Alat elektronik yang satu ini memang sangat praktis dan mudah digunakan. Kita tinggal memasukkan beras beserta air sesuai dengan takaran, kemudian tekan tombol cook dan beras tersebut akan matang dengan sendirinya. Akan tetapi, jangan salah. Rice cooker jika sampai di tangan anak kost tidak hanya berfungsi sebagai alat penanak nasi lhoh, melainkan dapat menjelma menjadi robot serbaguna yang sangat membantu.

Lalu, apa sajakah fungsi lain Rice cooker ala anak kost?

Alat untuk memasak air

Bagi anak kost yang belum atau tidak memiliki dispenser, keberadaan Rice cooker sangatlah membantu. Khususnya bagi para pecinta kopi, atau wedang hangat lainnya. Cukup dengan menuangkan air sesuai dengan kebutuhan ke dalam panci Rice cooker, tekan tombol cook, tunggu hingga mendidih dan air sudah bisa digunakan untuk menyeduh kopi, susu, atau wedang lainnya.

Alat untuk merebus mie instan

Penyakit yang melanda kebanyakan anak kost saat tanggal tua mulai datang adalah penyakit kanker alias kantong kering. Bagi anak kost yang terjangkit penyakit semacam ini, mie instan menjadi salah satu cara untuk menanggulanginya. Selain harganya yang murah, cara membuatnya pun mudah. Pokoknya, mie instan adalah solusi yang tepat bagi anak kost saat virus tanggal tua mulai melanda.
Namun, bagaimana dengan kost yang tidak ada dapurnya? Apakah mie instannya cukup dikremes dan langsung dimakan begitu saja? Tentu saja tidak. Anak kost selalu punya otak cerdas untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Disinilah peran tambahan Rice cooker ala anak kost dapat kita temukan.
Cara memasak mie instan dengan Rice cooker sama dengan ketika menggunakan kompor. Cukup tuangkan air secukupnya ke dalam panci, tunggu hingga mendidih lalu masukkan mie instan ke dalamnya. Step selanjutnya, pasti tahu sendiri lah yaa... Praktis bukan?

Alat untuk menggoreng telur

Setelah nasi matang, anak kost yang dilanda lapar tentunya tidak akan berdiam diri. Mereka akan mencari cara untuk memasak lauk yang enak, tetapi tetap murah. Telur dapat menjadi salah satu solusinya. Tidak perlu menyalakan kompor, anak kost dapat menggunakan rice cookernya untuk menggoreng telur. Cukup panaskan mentega atau minyak sayur secukupnya, kemudian masukkan telur hingga matang dan siap disajikan. Cara ini adalah cara yang paling mudah jika anak kost sedang malas pergi keluar untuk membeli lauk, sedangkan tidak ada dapur dalam kostnya.

Alat untuk merebus kentang

Cocok untuk anak kost perempuan nih, yang lagi melancarkan progam dietnya. Kentang merupakan salah satu makanan alternatif pengganti nasi bagi orang yang sedang diet karena mengandung nutrisi yang lengkap antara lain kalori (rendah), serat dan vitamin C. Selain itu, kentang juga memiliki cita rasa yang lezat. Oleh karena itu, tidak salah jika banyak sekali yang memilih kentang sebagai makanan pengganti nasi.
Bagi anak kost, keberadaan Rice cooker sangatlah membantu dalam hal rebus-merebus termasuk merebus kentang. Gak percaya? Coba aja. Cukup dengan memasukkan air dan kentang yang sudah dicuci bersih ke dalam panci Rice cooker, tekan tombol cooknya, dan tunggu hingga matang. Supaya matangnya lebih sempurna, sebaiknya kentang di potong menjadi beberapa bagian. Terutama kentang yang berukuran besar.

Alat untuk memasak puding

Bagi anak kost yang gemar nyemil berat-berat, biasanya mereka akan memasak puding atau agar-agar. Lumayanlah sebagai teman ngerjain tugas atau sekedar nonton film. Apa lagi jaman sekarang sudah banyak sekali produk racikan puding yang bisa langsung dimasak. Yang pasti, merknya gak perlu disebut di sini lah ya...
Rice cooker juga bisa digunakan untuk memasak puding lhoh.. Cukup ikuti petunjuk takarannya, lalu masak di Rice cooker. Tidak perlu repot membeli cetakan puding, karena panci Rice cooker dapat sekaligus menjadi wadah untuk mendinginkan puding. Percayalah, yang diutamakan anak kost bukanlah tampilan pudingnya, akan tetapi makannya. Benar nggak? jadi gak perlu repot mencari cetakan puding dong... cukup setelah puding mendidih, matikan rice cookernya dan tunggu hingga puding dingin dan siap disantap di tempat.

(Tulisan ini pernah dimuat di anakkos.com)
Eka Rafika Santi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Budaya Penulisan Alay di Facebook



Fenomena tulisan alay bukanlah hal yang asing ditelinga kita. Tulisan dan bahasa alay banyak digunakan oleh remaja yang baru memasuki masa pubertas. Kebanyakan dari mereka yang baru mengenal dunia maya, pasti menggunakan tulisan alay untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan di status atau kronologi facebooknya, maupun ketika mengirim pesan kepada teman. Dalam proses pengamatan yang saya lakukan di facebook, banyak sekali remaja-remaja yang menulis dengan huruf maupun bahasa alay. Objek yang saya amati adalah rekan-rekan yang saya kenal. Hal ini bertujuan supaya hasil pengamatan lebih akurat karena tidak tertipu dengan profil pengguna yang biasanya menipu.

Alasan saya memilih facebook sebagai objek pengamatan adalah karena aplikasi tersebut merupakan aplikasi dengan pengguna terbesar di Indonesia. Penggunaan facebook yang mudah dengan fiture yang menarik menjadikan aplikasi ini sangat populer terutama bagi remaja yang baru mengenal dunia maya.

Selain itu, keuntungan pengamatan melalui akun facebook untuk melihat fenomena tulisan alay adalah kita tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengamati. Karena dalam aplikasi tersebut, kita sudah bisa melihat jejak status yang diupdate pengguna dengan cukup menscroll mouse ke bawah. Jadi, kita bisa melihat perubahan penulisan seseorang seiring dengan bertambahnya usia dan perubahan lingkungannya.

Fenomena tulisan alay tentunya bukan tanpa sebab. Lingkungan yang ada di sekeliling turut berperan aktif dalam pembentukan budaya menulis alay di kalangan remaja. Akan tetapi, uniknya fenomena ini akan berubah seiring bertambahnya usia seseorang yang dipengaruhi kuat oleh lingkungan di mana seseorang berada. Dalam tulisan ini saya akan menjelaskan bagaimana proses terbentuknya budaya menulis alay hingga fase lunturnya budaya menulis alay dalam diri seorang remaja.

Dalam proses pengamatan, saya menggunakan perspektif negosiasi identitas dengan pendekatan sosial budaya. Negoisasi identitas merupakan proses interaksi transaksional di mana para individu dalam suatu situasi antarbudaya mencoba memaksakan, mendefinisikan, mengubah, menantang, dan/atau mendukung citra diri yang diinginkan pada mereka atau orang lain.

Remaja yang baru mengenal dunia maya, disadari ataupun tidak akan mengalami proses negosiasi dengan budaya yang ada. Budaya yang ada, dalam hal ini adalah budaya menulis alay yang sudah dilakukan oleh remaja sebelumnya dan menjadi identitasnya. Dalam pendekatan sosial budaya dijelaskan bahwa untuk memperoleh rasa aman, individu akan melakukan afiliasi dengan kelompok yang dinilai lebih kuat. Hal ini juga dapat mempengaruhi proses negosiasi dalam diri seorang remaja baru. Sehingga untuk memperoleh rasa aman remaja baru akan mendukung citra diri yang ada dalam kelompok remaja lama sebagai kelompok dengan identitas tulisan alaynya.

Ketika remaja sebelumnya menggunakan bahasa alay untuk menunjukkan eksistensinya di facebook, maka remaja baru akan mengikutinya agar dapat diterima di lingkungan tersebut. Pada masa negosiasi ini, remaja baru telah melakukan proses komunikasi intrapersonal yang berupa pertimbangan apakah akan mendukung atau menentang budaya menulis alay, yang kemudian diikuti dengan komunikasi antarpersonal dengan remaja yang lain manakala ia sudah menerima dan mulai berbaur dengan kelompok tersebut. Ia akan mengikuti budaya menulis alay dan menggunakannya sebagai upaya untuk menunjukkan eksistensinya.

Akan tetapi, budaya menulis alay ini hanya bertahan beberapa saat saja. Setelah seseorang sudah melewati masa remajanya, kebiasaan menulis dan menggunakan bahasa alay perlahan menghilang. Biasanya fase ini dimulai ketika remaja sudah memasuki dunia perkuliahan. Mereka sudah mulai menggunakan bahasa baik dan benar yang dimengerti orang pada umumnya.

Menghilangnya budaya menulis alay dalam diri seseorang juga bukan tanpa sebab. Ia mengalami proses yang sama seperti pada saat memasuki usia remaja. Ia akan melakukan negosiasi dengan budaya baru, yaitu budaya menulis dengan baik dan benar. Hal yang sangat berpengaruh bukan lagi pencarian eksistensi yang dulu dilakukan pada saat remaja, melainkan iklim akademik yang merubah seseorang menjadi lebih ideologis. Ketika remaja tersebut tidak mau menerima budaya baru dan masih mempertahankan budaya lamanya, dalam hal ini budaya menulis dan berbahasa alay, maka ada konsekwensi tersendiri yang harus ia terima. Sehingga, untuk memperoleh rasa aman, ia kembali menerima budaya baru dan masuk menjadi salah satu bagian di dalamnya.

Para remaja yang mulai masuk ke dalam dunia perkuliahan, perlahan akan melakukan penyesuaian terhadap lingkungan barunya. Teman-teman bergaul bukan lagi anak-anak alay, melainkan kaum-kaum intelektual. Sehingga yang dibutuhkan bukan lagi mencari formulasi bahasa alay yang baru, melainkan pola berfikir yang kritis. Oleh karena itu lah budaya tulisan alay perlahan terkikis dan tergantikan dengan budaya baru. Namun, budaya tulisan alay tetap ada karena diwariskan kepada generasi-generasi remaja setelahnya.

Selama proses pengamatan, saya menyimpulkan bahwa perubahan budaya pada diri seseorang sebenarnya tidak terikat oleh usia, melainkan lingkungan dimana seseorang itu tinggal. Namun, bukan berarti usia sama sekali tidak berpengaruh dalam proses pembentukan budaya dalam diri seseorang. Anak-anak yang baru memasuki masa remaja, yang kemudian menjadi alay karena mengikuti budaya remaja sebelumnya, kebanyakan karena mereka memiliki akses yang mendukung seperti memiliki smartphone. Namun berbeda dengan remaja yang tidak memilikinya.

Begitupun pada saat remaja sudah mulai memasuki masa dewasa, tidak semua dari mereka akan meninggalkan kebiasaan menulis alay. Banyak sekali orang-orang yang sudah dewasa namun masih menggunakan bahasa atau pun tulisan alay di media sosial. Hal ini saya temukan pada saat melakukan pengamatan, bahwa ada beberapa ibu rumah tangga yang bahkan sudah memiliki anak namun masih menggunakan bahasa dan tulisan alay. Rupa-rupanya ibu rumah tangga tersebut hanya lulus Sekolah Menengah Atas.

Sama halnya dengan teman-teman sejawat penulis yang tidak melanjutkan studinya di perguruan tinggi. Mereka juga masih tetap menggunakan tulisan dan bahasa alay sebagai wujud upaya untuk menunjukkan eksistensinya.