Senin, 16 Mei 2016

Ngopi dan Antri Mandi

Ngopi merupakan salah satu rutinitas yang paling sering dilakukan oleh mayoritas mahasiswa. Ngopi di sini  bukan ngopi-mengcopy lhoh ya, tapi ngobrol nongkrong di warung kopi. Meskipun, banyak juga sih mahasiswa yang ngopi alias jiplak tugas dari internet. Namun, hal itu tidak akan saya bahas disini. Mungkin di lain waktu saja. Hehe.

Bagi mahasiswa yang memang hobi ngopi, waktu bukanlah suatu halangan bagi mereka untuk tetap duduk berhadapan dengan bercangkir-cangkir minuman yang khas dengan rasanya yang pahit itu meskipun waktu sudah larut malam atau bahkan berganti hari. Uniknya, yang hobi ngopi itu tidak hanya mahasiswa lhoh, namun juga mahasiswi. Yah, tentunya aktifitas ini lebih sering dilakukan oleh mahasiswa atau mahasiswi yang tinggal di kost. Gak kebayang kan kalo tinggal di rumah dan setiap hari ngopi sampai pagi? Wah, pasti sering dapet omelan tuh dari orang tuanya? Hahaha..

Lalu, apa sih yang dibahas di warung kopi sampai berjam-jam seperti itu? Banyak. Iya, jawabannya banyak sekali. Ada yang berdiskusi, rapat organisasi, meet up dengan teman-teman, atau memang karena hobi nongkrong. Banyak yang berpendapat kalau diskusi yang dilakukan di warung kopi itu lebih asyik dari pada diskusi yang dilakukan di tempat-tempat lainnya, apalagi di kampus. Suasanan di warung kopi yang ramai dan khas memiliki sensasi tersendiri. Makanya, banyak sekali mahasiswa yang sampai lupa waktu gara-gara nongkrong, bahkan hingga tidur di warung kopi lhoh..

Tidak menjadi persoalan, jika aktifitas ngopi ini dilakukan pada hari libur. Namun, apa jadinya kalau dilakukan pada hari-hari biasa? Hmmm, akhirnya kuliah yang menjadi taruhannya bukan? Seringnya ngopi hingga larut malam, tidak jarang membuat mahasiswa bangun kesiangan dan pada akhirnya terlambat masuk kuliah. Apalagi yang kuliahnya jam 07.00 tepat, belum lagi ditambah dengan antri mandi. Waahh celaka. Udah bangunnya kesiangan, mandinya antri lagi. Duh kasihan deh kuliahnya (bukan orangnya).

Antri mandi memang menjadi salah satu problem terbesar dan tersering yang terjadi di lingkungan anak kost. Banyaknya populasi dalam suatu kost tidak sebanding dengan banyaknya kamar mandi yang disediakan menyebabkan para penghuninya dimabuk kepayang gara-gara dikejar waktu. Tragedi menyeramkan versi anak kost ini memang tidak berlaku bagi anak kost yang memiliki kamar mandi dalam, namun, tidak menjamin mereka tidak terlambat ke kampus jika pada malam harinya ngopi.

Meskipun sudah sering telat ngampus gara-gara ngopi dan tragedi antri mandi, tidak lantas membuat mahasiswa yang hobi ngopi tersebut kapok. Masih saja diulangi pada hari-hari berikutnya. Betul nggak? Memang yah, yang namanya hobi itu susah sekali di hilangkan. Akan tetapi, jangan salah, ngopi dan antri mandi punya sisi positifnya lhoh.

Mahasiswa yang suka ngopi, selain dapat mempererat solidaritas dan pertemanan diantara mereka, juga dapat menambah wawasan. Karena sering kali mereka menyelipkan bahan-bahan untuk dapat didiskusikan bersama. Lalu bagaimana dengan antri mandi? Sisi positif dari antri mandi adalah irit air. Betul tidak? Karena waktu yang terbatas, akhirnya tidak ada waktu untuk berlama-lamaan di kamar mandi. Bagaimana mau berlama-lamaan di kamar mandi, lha wong baru melepas pakaian saja sudah di gedor sama antrian selanjutnya. Giliran yang mandi terakhir, ehh sudah telat bingitz kuliahnya. Yah, boro-boro mandi, paling langsung pada cap-cus ke kampus. So, antri mandi bener-bener bikin irit air kan? Hahaha
Post: Eka Rafika

(Tulisan ini pernah dimuat di anakkost.com)
Eka Rafika Santi Komunikasi Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
           

Remaja Islam Masa Kini, Progres atau Regres???

Islam, sebagai agama rahmatan lil’alamin, telah mengajarkan manusia untuk berperilaku yang baik dan benar sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadist. Pertama kali Islam lahir dan dibawa oleh Nabi Muhammad ratusan tahun yang lalu di Jazirah Arab, tak lain adalah bertujuan untuk membimbing manusia supaya berada di jalan yang benar. karena pada waktu itu, kemaksiatan dan kejahatan sudah menjadi hal yang biasa di lakukan di negeri padang pasir tersebut.

Semakin ke sini, islam telah banyak mengalami perkembangan. Banyak ilmuan muslim yang lahir dan terkenal di dunia. Seperti Al- Ghazali, Ibnu Sina, Al-Razi, atau yang baru-baru ini muncul seperti Abdussalam, Arkani Hamed, BJ. Habibie dan masih banyak lainnya.

Namun, ada ironi yang muncul bersamaan dengan perkembangan ilmu pengetahuan di kalangan muslim, terutama di Indonesia. Yaitu, mulai masuknya kebudayan barat yang notabenenya jauh dari ajaran agama islam. Gaya hidup bebas sudah menjalar di lingkungan remaja islam Indonesia. Berpakaian terbuka, berpesta, seks bebas, bahkan pemerkosaan dan pembunuhan yang dulu sering dilakukan oleh kaum Jahiliyyah juga sudah banyak dilakukan di Indonesia.

“Para remaja islam tidak malu lagi mempertontonkan kemesraan nya dengan lawan jenis di depan orang banyak atau di tempat umum. Dapat kita saksikan cowok cewek berboncengan, insyaallah kecepatan motor itu 20 km/jam tapi subhaallah ceweknya meluk cowok itu seolah-olah motor itu dalam kecepatan 120 km/jam, na’udzubillah himindzalik”. Tutur Hanung Pertapa Sari, ustadzah PPMI Assalaam Surakarta.

Fenomena-fenomena seperti itu memang sudah banyak kita jumpai dewasa ini. Hanung menambahkan, bahwa banyak di antara remaja muslim yang sudah tidak lagi melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai seorang muslim. Islam hanya sekedar dijadikan sebagai identitas belaka.

Namun, lain halnya dengan Fitriyani, mahasiswa KPI 2013. Ia memandang bahwa remaja islam sudah banyak mengalami perkembangan terutama dari segi berpakaian.

“Pertama kali islam masuk di Indonesia dan mengenalkan cara berpakaian yang tertutup, orang-orang hanya sekedar memakai kain yang di slempangkan di kepala. Akan tetapi, sekarang sudah banyak remaja muslim yang memakai jilbab syar’i”. Jelasnya.

Lalu, bagaimana sebenarnya perkembangan remaja islam masa kini? Progres atau regres? Tentunya kita tidak dapat melihat segala sesuatu dari satu sisi saja, melainkan harus dari berbagai sisi. Islam tidak hanya sekedar  cara berpakain, juga bukan hanya mengajarkan caranya bergaul dengan sesama. Islam lebih luas daripada lautan.

Semoga tulisan ini dapat memberi suntikan moral kepada remaja islam masa kini untuk dapat menginstropeksi diri. (Tugas: Laporan Utama dalam Majalah Psidak)
               

Sabtu, 14 Mei 2016

Fungsi Lain Rice Cooker Ala Anak Kost




Sesuai dengan namanya, Rice cooker diciptakan untuk menanak nasi sekaligus menghangatkannya. Alat elektronik yang satu ini memang sangat praktis dan mudah digunakan. Kita tinggal memasukkan beras beserta air sesuai dengan takaran, kemudian tekan tombol cook dan beras tersebut akan matang dengan sendirinya. Akan tetapi, jangan salah. Rice cooker jika sampai di tangan anak kost tidak hanya berfungsi sebagai alat penanak nasi lhoh, melainkan dapat menjelma menjadi robot serbaguna yang sangat membantu.

Lalu, apa sajakah fungsi lain Rice cooker ala anak kost?

Alat untuk memasak air

Bagi anak kost yang belum atau tidak memiliki dispenser, keberadaan Rice cooker sangatlah membantu. Khususnya bagi para pecinta kopi, atau wedang hangat lainnya. Cukup dengan menuangkan air sesuai dengan kebutuhan ke dalam panci Rice cooker, tekan tombol cook, tunggu hingga mendidih dan air sudah bisa digunakan untuk menyeduh kopi, susu, atau wedang lainnya.

Alat untuk merebus mie instan

Penyakit yang melanda kebanyakan anak kost saat tanggal tua mulai datang adalah penyakit kanker alias kantong kering. Bagi anak kost yang terjangkit penyakit semacam ini, mie instan menjadi salah satu cara untuk menanggulanginya. Selain harganya yang murah, cara membuatnya pun mudah. Pokoknya, mie instan adalah solusi yang tepat bagi anak kost saat virus tanggal tua mulai melanda.
Namun, bagaimana dengan kost yang tidak ada dapurnya? Apakah mie instannya cukup dikremes dan langsung dimakan begitu saja? Tentu saja tidak. Anak kost selalu punya otak cerdas untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Disinilah peran tambahan Rice cooker ala anak kost dapat kita temukan.
Cara memasak mie instan dengan Rice cooker sama dengan ketika menggunakan kompor. Cukup tuangkan air secukupnya ke dalam panci, tunggu hingga mendidih lalu masukkan mie instan ke dalamnya. Step selanjutnya, pasti tahu sendiri lah yaa... Praktis bukan?

Alat untuk menggoreng telur

Setelah nasi matang, anak kost yang dilanda lapar tentunya tidak akan berdiam diri. Mereka akan mencari cara untuk memasak lauk yang enak, tetapi tetap murah. Telur dapat menjadi salah satu solusinya. Tidak perlu menyalakan kompor, anak kost dapat menggunakan rice cookernya untuk menggoreng telur. Cukup panaskan mentega atau minyak sayur secukupnya, kemudian masukkan telur hingga matang dan siap disajikan. Cara ini adalah cara yang paling mudah jika anak kost sedang malas pergi keluar untuk membeli lauk, sedangkan tidak ada dapur dalam kostnya.

Alat untuk merebus kentang

Cocok untuk anak kost perempuan nih, yang lagi melancarkan progam dietnya. Kentang merupakan salah satu makanan alternatif pengganti nasi bagi orang yang sedang diet karena mengandung nutrisi yang lengkap antara lain kalori (rendah), serat dan vitamin C. Selain itu, kentang juga memiliki cita rasa yang lezat. Oleh karena itu, tidak salah jika banyak sekali yang memilih kentang sebagai makanan pengganti nasi.
Bagi anak kost, keberadaan Rice cooker sangatlah membantu dalam hal rebus-merebus termasuk merebus kentang. Gak percaya? Coba aja. Cukup dengan memasukkan air dan kentang yang sudah dicuci bersih ke dalam panci Rice cooker, tekan tombol cooknya, dan tunggu hingga matang. Supaya matangnya lebih sempurna, sebaiknya kentang di potong menjadi beberapa bagian. Terutama kentang yang berukuran besar.

Alat untuk memasak puding

Bagi anak kost yang gemar nyemil berat-berat, biasanya mereka akan memasak puding atau agar-agar. Lumayanlah sebagai teman ngerjain tugas atau sekedar nonton film. Apa lagi jaman sekarang sudah banyak sekali produk racikan puding yang bisa langsung dimasak. Yang pasti, merknya gak perlu disebut di sini lah ya...
Rice cooker juga bisa digunakan untuk memasak puding lhoh.. Cukup ikuti petunjuk takarannya, lalu masak di Rice cooker. Tidak perlu repot membeli cetakan puding, karena panci Rice cooker dapat sekaligus menjadi wadah untuk mendinginkan puding. Percayalah, yang diutamakan anak kost bukanlah tampilan pudingnya, akan tetapi makannya. Benar nggak? jadi gak perlu repot mencari cetakan puding dong... cukup setelah puding mendidih, matikan rice cookernya dan tunggu hingga puding dingin dan siap disantap di tempat.

(Tulisan ini pernah dimuat di anakkos.com)
Eka Rafika Santi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Budaya Penulisan Alay di Facebook



Fenomena tulisan alay bukanlah hal yang asing ditelinga kita. Tulisan dan bahasa alay banyak digunakan oleh remaja yang baru memasuki masa pubertas. Kebanyakan dari mereka yang baru mengenal dunia maya, pasti menggunakan tulisan alay untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan di status atau kronologi facebooknya, maupun ketika mengirim pesan kepada teman. Dalam proses pengamatan yang saya lakukan di facebook, banyak sekali remaja-remaja yang menulis dengan huruf maupun bahasa alay. Objek yang saya amati adalah rekan-rekan yang saya kenal. Hal ini bertujuan supaya hasil pengamatan lebih akurat karena tidak tertipu dengan profil pengguna yang biasanya menipu.

Alasan saya memilih facebook sebagai objek pengamatan adalah karena aplikasi tersebut merupakan aplikasi dengan pengguna terbesar di Indonesia. Penggunaan facebook yang mudah dengan fiture yang menarik menjadikan aplikasi ini sangat populer terutama bagi remaja yang baru mengenal dunia maya.

Selain itu, keuntungan pengamatan melalui akun facebook untuk melihat fenomena tulisan alay adalah kita tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengamati. Karena dalam aplikasi tersebut, kita sudah bisa melihat jejak status yang diupdate pengguna dengan cukup menscroll mouse ke bawah. Jadi, kita bisa melihat perubahan penulisan seseorang seiring dengan bertambahnya usia dan perubahan lingkungannya.

Fenomena tulisan alay tentunya bukan tanpa sebab. Lingkungan yang ada di sekeliling turut berperan aktif dalam pembentukan budaya menulis alay di kalangan remaja. Akan tetapi, uniknya fenomena ini akan berubah seiring bertambahnya usia seseorang yang dipengaruhi kuat oleh lingkungan di mana seseorang berada. Dalam tulisan ini saya akan menjelaskan bagaimana proses terbentuknya budaya menulis alay hingga fase lunturnya budaya menulis alay dalam diri seorang remaja.

Dalam proses pengamatan, saya menggunakan perspektif negosiasi identitas dengan pendekatan sosial budaya. Negoisasi identitas merupakan proses interaksi transaksional di mana para individu dalam suatu situasi antarbudaya mencoba memaksakan, mendefinisikan, mengubah, menantang, dan/atau mendukung citra diri yang diinginkan pada mereka atau orang lain.

Remaja yang baru mengenal dunia maya, disadari ataupun tidak akan mengalami proses negosiasi dengan budaya yang ada. Budaya yang ada, dalam hal ini adalah budaya menulis alay yang sudah dilakukan oleh remaja sebelumnya dan menjadi identitasnya. Dalam pendekatan sosial budaya dijelaskan bahwa untuk memperoleh rasa aman, individu akan melakukan afiliasi dengan kelompok yang dinilai lebih kuat. Hal ini juga dapat mempengaruhi proses negosiasi dalam diri seorang remaja baru. Sehingga untuk memperoleh rasa aman remaja baru akan mendukung citra diri yang ada dalam kelompok remaja lama sebagai kelompok dengan identitas tulisan alaynya.

Ketika remaja sebelumnya menggunakan bahasa alay untuk menunjukkan eksistensinya di facebook, maka remaja baru akan mengikutinya agar dapat diterima di lingkungan tersebut. Pada masa negosiasi ini, remaja baru telah melakukan proses komunikasi intrapersonal yang berupa pertimbangan apakah akan mendukung atau menentang budaya menulis alay, yang kemudian diikuti dengan komunikasi antarpersonal dengan remaja yang lain manakala ia sudah menerima dan mulai berbaur dengan kelompok tersebut. Ia akan mengikuti budaya menulis alay dan menggunakannya sebagai upaya untuk menunjukkan eksistensinya.

Akan tetapi, budaya menulis alay ini hanya bertahan beberapa saat saja. Setelah seseorang sudah melewati masa remajanya, kebiasaan menulis dan menggunakan bahasa alay perlahan menghilang. Biasanya fase ini dimulai ketika remaja sudah memasuki dunia perkuliahan. Mereka sudah mulai menggunakan bahasa baik dan benar yang dimengerti orang pada umumnya.

Menghilangnya budaya menulis alay dalam diri seseorang juga bukan tanpa sebab. Ia mengalami proses yang sama seperti pada saat memasuki usia remaja. Ia akan melakukan negosiasi dengan budaya baru, yaitu budaya menulis dengan baik dan benar. Hal yang sangat berpengaruh bukan lagi pencarian eksistensi yang dulu dilakukan pada saat remaja, melainkan iklim akademik yang merubah seseorang menjadi lebih ideologis. Ketika remaja tersebut tidak mau menerima budaya baru dan masih mempertahankan budaya lamanya, dalam hal ini budaya menulis dan berbahasa alay, maka ada konsekwensi tersendiri yang harus ia terima. Sehingga, untuk memperoleh rasa aman, ia kembali menerima budaya baru dan masuk menjadi salah satu bagian di dalamnya.

Para remaja yang mulai masuk ke dalam dunia perkuliahan, perlahan akan melakukan penyesuaian terhadap lingkungan barunya. Teman-teman bergaul bukan lagi anak-anak alay, melainkan kaum-kaum intelektual. Sehingga yang dibutuhkan bukan lagi mencari formulasi bahasa alay yang baru, melainkan pola berfikir yang kritis. Oleh karena itu lah budaya tulisan alay perlahan terkikis dan tergantikan dengan budaya baru. Namun, budaya tulisan alay tetap ada karena diwariskan kepada generasi-generasi remaja setelahnya.

Selama proses pengamatan, saya menyimpulkan bahwa perubahan budaya pada diri seseorang sebenarnya tidak terikat oleh usia, melainkan lingkungan dimana seseorang itu tinggal. Namun, bukan berarti usia sama sekali tidak berpengaruh dalam proses pembentukan budaya dalam diri seseorang. Anak-anak yang baru memasuki masa remaja, yang kemudian menjadi alay karena mengikuti budaya remaja sebelumnya, kebanyakan karena mereka memiliki akses yang mendukung seperti memiliki smartphone. Namun berbeda dengan remaja yang tidak memilikinya.

Begitupun pada saat remaja sudah mulai memasuki masa dewasa, tidak semua dari mereka akan meninggalkan kebiasaan menulis alay. Banyak sekali orang-orang yang sudah dewasa namun masih menggunakan bahasa atau pun tulisan alay di media sosial. Hal ini saya temukan pada saat melakukan pengamatan, bahwa ada beberapa ibu rumah tangga yang bahkan sudah memiliki anak namun masih menggunakan bahasa dan tulisan alay. Rupa-rupanya ibu rumah tangga tersebut hanya lulus Sekolah Menengah Atas.

Sama halnya dengan teman-teman sejawat penulis yang tidak melanjutkan studinya di perguruan tinggi. Mereka juga masih tetap menggunakan tulisan dan bahasa alay sebagai wujud upaya untuk menunjukkan eksistensinya.

Minggu, 28 Februari 2016

My Foklor

Asal-usul Desa Watuaji
            Pada kesempatan kali ini, saya akan menceritakan tentang asal-usul Desa Watuaji yang merupakan desa kelahiran saya 20 tahun silam. Desa Watuaji adalah sebuah Desa kecil yang termasuk ke dalam daerah pemerintahan Kabupaten Jepara. Desa ini terletak di kaki gunung Muria bagian utara, sehingga termasuk daerah pertanian yang subur.
            Dilihat dari namanya, Watuaji berarti batu yang berharga atau batu yang dianggap bertuah. Penamaan desa ini konon berawal dari sebuah kisah yang terjadi pada zaman dahulu, yang hingga sekarang masih beredar dan dipercaya oleh masyarakat setempat.
            Konon, pada zaman dahulu wali songo dalam upayanya menyebarkan agama islam hendak membangun masjid di daerah tersebut. Rencananya, pembangunan masjid akan dilaksanakan dalam waktu semalam. Kebetulan malam itu malam bulan purnama, sehingga pada waktu subuh sudah seperti pagi hari. Ayam-ayam pun mulai berkokok, dan masyarakat setempat juga sudah memulai aktivitasnya menumbuk padi dan menjemur kapas. Melihat ulah masyarakat, para wali pun marah dan menendang masjid yang hampir terselesaikan itu. Akhirnya material masjid pun terpental dan berubah menjadi batu.
            Material masjid yang ditendang dan menjadi batu tersebut tersebar di berbagai tempat di sepanjang aliran sungai Pedot. Bentuknya pun bermacam-macam, ada yang seperti tiang penyangga sehingga dinamakan watu soko, ada yang seperti dinding sehingga dinamakan watu gebyok, ada pula yang mirip seperti pintu sehingga dinamakan watu lawang, dan masih banyak lagi. Karena banyaknya batu-batu yang dipercaya sebagai material masjid ini lah yang kemudian menjadi akar dari penamaan desa Watuaji, yaitu desa dengan batu yang bertuah.
            Karena marah dan kesal, para wali tidak hanya menendang bangunan masjid, namun juga mengutuk warga desa yang menjemur kapas bahwa sampai tua tidak akan menikah. Daerah yang terkena kutukan tersebut dinamakan daerah Brengkel, yang berarti julukan bagi orang yang sampai tua tidak menikah. Hingga kini daerah tersebut masih ada beserta namanya dan termasuk salah satu perdukuhan di desa Watuaji. Dulu, masyarakat di daerah ini memang dikenal baru menikah di usia tua, akan tetapi lama-kelamaan kutukan tersebut luntur.
Tentang kebenaran cerita tersebut, sampai saat ini belum ada bukti yang autentik. Pasalnya, dalam cerita wali songo pun setahu saya tidak pernah menyinggung peristiwa ini. Namun, demikianlah cerita yang beredar dan dipercaya oleh masyarakat setempat.
Pada halaman akhir, saya melampirkan beberapa foto batu-batu yang ada di Desa Watuaji. Bentuk-bentuknya memang unik, berbeda dari batu-batu biasanya. Oleh karena itu, ada yang berpendapat bahwa batu-batu yang berada di desa Watuaji sebenarnya bukan material masjid para wali, akan tetapi peninggalan kerajaan Kalingga pada abad ke-5 M yang pada waktu itu dipimpin oleh Ratu Shima. Pendapat tersebut diperkuat dengan ditemukannya petilasan-petilasan di desa Tempur, yaitu sebuah desa yang terletak disebelah selatan desa Watuaji.

Akan tetapi, kebenarannya pun belum dapat dipastikan, karena sampai saat ini belum ada arkeolog yang meneliti batu-batu di desa Watuaji. Para arkeolog hanya sebatas meneliti petilasan yang berada di desa Tempur saja. Sampai saat sudah dilakukan penelitian, barulah dapat dipastikan apakah usia batu-batu yang berada di daerah Watuaji sama dengan usia berdirinya kerajaan demak yang berarti memang benar ada kaitannya dengan kisah para wali, atau usianya sama dengan usia berdirinya kerajaan Kalingga yang berarti bahwa batu-batu tersebut adalah peninggalan sejarah Ratu Shima.




Senin, 08 Februari 2016

Wayang, yang Tersirat dan Tersurat

     Wayang adalah salah satu seni drama tradisional Jawa yang usianya tergolong sangat tua. Diperkirakan kesenian ini sudah ada sejak abad ke-10 M. Wayang mengandung banyak pesan moral kepada manusia. Kisah yang diceritakan dalam wayang merupakan kisah seputar kehidupan manusia pada umumnya, dimana terdapat tokoh-tokoh yang baik dan juga tokoh-tokoh yang jahat. Kisah yang dibawakan dalam kesenian wayang berbeda-beda tergantung jenis wayangnya. Menurut Koentjaraningrat, wayang yang paling terkenal dan disukai oleh sebagian besar masyarakat Jawa adalah ringgit purwa. Ringgit purwa tersebut menceritakan tentang kisah-kisah yang diambil dari Serat Rama, yaitu kisah Ramayana dan Bratayudha. Ada lagi yang namanya ringgit gedhog yang mengambil cerita dari epos Panji yang berasal dari daerah Asia Tenggara. Selain itu, ada pula yang disebut dengan ringgit golek, ringgit klithik, dan masih banyak lagi.
     Selain dapat menjadi hiburan, wayang juga dapat menjadi sebuah pitutur luhur bagi masyarakat Jawa. Karena kisah-kisah yang diceritakan penuh dengan nilai-nilai kehidupan, baik secara tersirat maupun tersurat. Nilai-nilai yang tersurat dalam kesenian wayang dapat kita peroleh melalui kisah yang diceritakan oleh sang dhalang. Seperti misalnya yang terdapat dalam kisah Ramayana. Kisah tersebut salah satunya mengajarkan manusia untuk selalu memegang teguh kepercayaan. Rama yang merupakan seorang raja harus menyesali perbuatannya karena telah meragukan kesetiaan Dewi Shinta, istrinya. Shinta yang cantik jelita diceritakan telah dicuri oleh raksasa jahat yang bernama Rahwana. Hasutan demi hasutan yang mengatakan bahwa Shinta telah berhasil disetubuhi Rahwana perlahan terdengar sampai ke telinga Rama. Shinta sudah berulangkali mencoba meyakinkan Rama bahwa ia masih tetap suci dan selalu setia kepada Rama. Namun, Rama tetap tidak percaya dan meminta Shinta untuk membuktikan kebenaran perkataannya melalui cara-cara yang tidak masuk akal, seperti melewati api suci. Benar saja, Shinta berhasil melewati api suci tanpa setitik pun dari tubuhnya terbakar. Akan tetapi, lagi-lagi hasutan datang dan Rama kembali meragukan Shinta. Sehingga pada akhirnya, Shinta dengan tegas mengatakan kepada Rama dengan disaksikan oleh seluruh rakyatnya bahwa ia berasal dari bumi dan akan kembali kepada bumi. Jika ia telah berkata jujur, maka bumi yang baik akan menerimanya dengan baik. Namun, jika ia tidak berkata jujur, maka bumi yang baik akan menolaknya dengan keras. Dan ternyata, bumi menerima Shinta dengan baik. Shinta terkubur dan kembali ke perut bumi disertai dengan penyesalan Rama. Itu adalah salah satu nilai atau amanah yang dapat kita ambil dari kisah pewayangan.
     Sedangkan nilai-nilai yang tersirat dapat kita peroleh melalui memahami arti filosofis dari alat-alat yang digunakan. Jika kita melihat bentuk wayang secara dekat, maka kita akan takjub dengan bentuknya yang indah. Wayang tersebut dibuat dari kulit yang ditatah sedemikian rupa, sehingga berbeda dari tokoh yang satu dengan tokoh yang lainnya. Ditambah lagi dengan paduan warna yang sesuai. Wayang terdiri dari beragam ukuran dari yang terbesar hingga yang terkecil, serta dari beragam watak manusia dari yang paling baik hingga yang paling jahat. Biasanya tokoh wayang jahat bentuk wajahnya menyeramkan dan diidentikkan dengan mukanya yang merah.
     Namun, coba kita perhatikan disetiap pagelaran wayang. Wayang-wayang yang siap dimainkan diletakkan berjejer di depan layar, agak lebih tinggi dari kepala dhalang. Dan di dekat layar dipasangkan sebuah lampu minyak yang digunakan untuk membuat bayangan dari tokoh-tokoh wayang di balik layar. Sehingga bayangan tersebut dapat dinikmati oleh para pengunjung. Jadi, singkatnya yang diperlihatkan atau yang disaksikan ketika melihat wayang adalah bayangannya.
     Dari situ dapat kita peroleh sebuah pelajaran, bahwa manusia hidup di dunia, berhubungan dengan sesama, yang seharusnya dilihat adalah solah bawa atau tingkah lakunya. Masalah fisik, pakaian, gelar, itu tidak berarti apa-apa. Wayang terukir bagus, namun yang diperlihatkan darinya hanyalah bayangan yang merupakan tingkah lakunya. Maka ukiran yang terdapat padanya tidaklah berarti jika tingkah lakunya buruk.
     Keistimewaan lain yang dimiliki kesenian yang satu ini adalah kehebatannya menyatukan masyarakat pada zaman dahulu. Bahkan ada  yang menyebutkan bahwa wayang termasuk suatu "compelling religious mythology", yang menyatukan masyarakat Jawa secara menyeluruh. Secara horisontal meliputi seluruh daerah geografis di Jawa, dan secara vertikal meliputi semua golongan sosial masyarakat Jawa. (Anderson 1965: 5). Ketika kesenian wayang digelar dalam suatu tempat, maka masyarakat Jawa pada zaman dahulu berbondong-bondong untuk menyaksikannya bersama-sama. Tidak peduli apakah ia dari golongan priyayi atau rakyat biasa, mereka bersama-sama menikmati kesenian wayang hingga subuh menjelang.


Wallahua'lam

Sabtu, 06 Februari 2016

Puisi; Tentang Rindu

Pagi hari aku merindu
Bersama dengan rekahan sinar matahari, kusampaikan rasa rindu itu melalui kokok ayam yang ternyata tak kau dengar

Siang kemudian aku masih merindu
Disaksikan oleh burung-burung, pohon-pohon, gunung-pegunungan, hingga laut dan gumuk pasir
Kusampaikan kembali maksud hati kepadamu lewat angin yang ternyata kau lewatkan

Sore harinya aku masih saja merindu
Ditemani lembayung jingga tanda senja dan secangkir kopi kesukaanmu
Aku berharap kau juga menatap senja dan menikmati kopimu
Benar saja kau menikmati kopimu, sayang
Namun tidak dengan menatap senja
Maka kerinduanku kembali tak tersampaikan

Malam ini aku lagi-lagi merindu
Lewat bintang aku tak mungkin menyapamu
Karena aku tahu, kau tak sedang membaca langit atau tak sempat membaca langit
Lalu kuputuskan untuk menyapamu lewat bahasa dalam buku yang tengah kau baca
Entah buku apa, itu tebal sekali
Namun, ku urungkan niat
Karena aku tidak inging mengganggu kerinduanmu kepadanya
Helaian kertas...